Revitalisasi Bakauheni Harbour City: Menata Gerbang Sumatra
Kawasan Bakauheni di ujung selatan Pulau Sumatra kini bersiap menapaki babak baru transformasi wilayah. Proyek terpadu Bakauheni Harbour City (BHC) yang dirancang sebagai destinasi tepi laut terintegrasi telah memasuki tahap pematangan klaster hiburan, budaya, dan hospitality maritim.
Sebagai gerbang penghubung utama antara Pulau Jawa dan Sumatra, wilayah ini setiap tahunnya dilintasi jutaan penumpang dan armada logistik. Kini, Bakauheni tidak sekadar menjadi titik transit kapal feri semata, melainkan magnet wisata budaya dan kebanggaan masyarakat Lampung.
"Kami ingin memastikan bahwa setiap orang yang menginjakkan kaki di tanah Lampung pertama kali melalui Bakauheni langsung disambut dengan kemegahan arsitektur lokal berpadu lanskap panorama Selat Sunda yang menakjubkan," tutur perwakilan pengembang kawasan.
Integrasi Menara Siger dan Pusat Edukasi
Menara Siger yang telah lama menjadi ikon abadi Lampung kini dikelilingi oleh ruang terbuka hijau, museum maritim interaktif, amfiteater seni budaya, serta sentra kriya khas daerah. Pengunjung dapat menikmati matahari terbit di atas perairan Selat Sunda sembari menikmati secangkir kopi robusta segar dari petani lokal Lampung Barat.
Dampak ekonomi nyata mulai terasa bagi pelaku usaha mikro di sekitar kecamatan Bakauheni dan Kalianda. Penyerapan tenaga kerja lokal dalam industri perhotelan dan layanan pariwisata meningkat signifikan sepanjang semester pertama tahun ini.